Tampilkan postingan dengan label karib bsd. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karib bsd. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Agustus 2015

Dharibah atau pajak dalam Islam

#ekonomikarib

Dharibah atau pajak adalah harta yang diwajibkan Allah atas kaum muslimin dalam rangka memenuhi kebutuhan mereka (diwajibkan atas Baitul mal) serta pihak-pihak yang diwajibkan atas mereka, namun Baitul mal tidak dapat memenuhi hal tersebut
Apabila dana Baitul mal tidak mencukupi, kewajibannya beralih kepada kaum muslimin, dengan diwajibkannya dharibah. Pendanaan untuk keadaan darurat, seperti bencana alam, kelaparan, serangan musuh. Apabila dana Baitul mal tidak mencukupi, kewajibannya beralih kepada kaum muslimin, dengan diwajibkannya dharibah.

Diwajibkan dharibah atas seorang muslimin yang telah mampu memenuhi kebutuhan pokok dan sekundernya, sesuai standar kebutuhan pada saat itu. Dharibah diwajibkan atas kelebihan harta tersebut, namun sebatas terpenuhinya kebutuhan Baitul mal untuk mampu memenuhi kebutuhan seperti yang dijelaskan di atas.

Negara tidak boleh mewajibkan pajak tidak langsung, pajak bumi dan bangunan, pajak jual beli (muamalat) dan sebagainya sebagaimana diterapkan dalam sistem kapitalis.

@karibfmmb
Daftar grup wa karib
Chat ke 08979228341

Sabtu, 01 Agustus 2015

Dzikir Kemerdekaan bersama KH Arifin Ilham

Hadirilah
Dzikir Kemerdekaan bersama KH Arifin Ilham
Senin, 17 Agustus 2015 pkl 09.00 sd selesai
Di Masjid Asy Syarif Al Azhar Bsd

Penyelenggara
DKM Asy Syarif AlAzhar Bsd
Majelis Adz-Dzikra
Forum Masjid dan Mushola Bsd
Keluarga Remaja Islam Bsd
Yayasan KKMB
Yayasan Al Azhar

Rabu, 29 Juli 2015

Jangan pernah mengentengkan untuk mengaminkan

Jangan Pernah Mengentengkan untuk Mengaminkan

Oleh : KH Hafidz Abdurrahman

INILAHCOM, Jakarta- Jangan sekali-kali meremehkan "aamiin". Maka tidak cukup di dalam hati. Nabi menjelaskan ihwal "Aamiin" ini.

Kata Nabi, "Jibril mengajariku "Aamiin", ketika aku selesai membaca al-Fatihah. "Aamiin" itu seperti stempel untuk al-Qur'an." Bahkan dalam riwayat lain, "Aamiin itu adalah stempel Allah, Tuhan semesta alam."

Abu Bakar menjelaskan, "Maknanya, "aamiin" itu merupakan stempel Allah untuk hamba-Nya. Karena ia bisa menolak segala penyakit dan bala' dari mereka.

Bahkan, dalam hadits lain disebutkan, "Aamiin itu salah satu tangga di surga." Maknanya, kata Abu Bakar, "Kata yang dengannya, orang yang mengucapkannya berhak mendapatkan salah satu tangga surga."

Wahab bin Munabbih berkata, "Aamiin terdiri dari 4 huruf (yaitu, Alif, Mim, Ya' dan Nun), dimana di setiap hurufnya Allah ciptakan satu malaikat. Malaikat berkata (ketika ada yang mengucapkan "Aamiin"), "Allahummaghfir likulli man qala Amin (Ya Allah, ampunilah setiap orang yang mengucapkan Amin)."

Karena itu, sampai seorang penyair mengatakan, "Aamiin, Aamiin, aku tidak rela hanya dengan mengucapkan sekali, hingga aku akan mengulangnya 2000 Aamiin.." Penyair yang lain mengatakan, "Allah mengasihi seorang hamba yang berkata, 'Aamiin"..

Nabi sendiri, ketika habis membaca al-Fatihah, selalu mengucapkan "Aamiin." hingga bacaannya terdengar oleh barisan pertama dalam shalat. Jadi, tidak cukup mengucapkan "Aamiin" di dalam hati.

Bahkan, saking istimewanya "Aamiin", kata Nabi, "Sesungguhnya Allah telah memberikan kepada umatku, apa yang tidak diberikan kepada siapapun sebelum mereka: (1) "as-Salam", yaitu salam penghuni surga; (2) Barisan malaikat; (3) Aamiin.." (Dinukil dari Tafsir al-Qurthubi, tentang Amin).

Subhanallah. Andai, kita tahu kemuliaan "Aamiin", kita tidak akan melewatkan kata "Aamiin", meski kelihatannya enteng.

Sabtu, 11 Juli 2015

REFLEKSI KETAKWAAN KITA DI PENGHUJUNG RAMADHAN Oleh: KH Hafidz Abdurrahman

Nabi menegaskan, “Ramadhan” disebut demikian, karena ia bisa membakar dosa-dosa kita [Hr. Ibn Qudamah]. Dosa-dosa kita dibakar, dengan berbagai ketaatan yang ada di dalamnya, sebagaimana firman Allah SWT: “Inna al-hasanat yudzhibna as-sayyi’at” [Sesungguhnya berbagai kebaikan itu akan bisa menghilangkan keburukan dan maksiat] [Q.s. Hud: 114].

Karena itu, Ramadhan telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai bulan puasa, bulan kesabaran, dan tentu bulan penuh berkah. Puasa itu, kata ‘Umar bin al-Khatthab radhiya-Llahu ‘anhu, bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga dari hal-hal tidak berguna dan sia-sia [Hr. Ibn Abi Syibah, dalam kitabnya, al-Mushannaf]. Maka, dengan puasa, kita dilatih untuk melakukan ketaatan sepenuhnya kepada Allah, dan menjauhi sejauh-jauhnya maksiat. Termasuk hal-hal yang sia-sia dan tidak berguna pun harus ditinggalkan. Di sinilah, kesabaran kita diuji. Sabar melawan dorongan nafsu dan syahwat.

Sabar melawan dorongan nafsu dan syahwat lebih susah, ketimbang sabar dalam taat. Namun, dengan ketakwaan yang didapat, semuanya itu akan mudah. Bagaimana tidak, ketakwaan yang dibentuk oleh keyakinan pada yang gaib [Q.s. al-Baqarah: 3] itu telah menghasilkan kekuatan tanpa batas. Betapa tidak, ketika kita meyakini Dzat dan Sifat Allah, Allah Maha segalanya, maka keterbatasan kita pun sirna, saat kita bersandar kepada Allah yang Maha tak terbatas.

Dengan susah payah kita pun puasa, shalat, bangun di tengah malam, melangkahkan kaki untuk shalat berjamaah di masjid, membaca dan memahami al-Qur’an serta berjuang untuk menegakkan hukumnya, karena kita yakin dengan janji Allah yang gaib. Pahala, surga, rontoknya dosa-dosa kita saat kaki melangkah ke masjid, semuanya adalah gaib. Semuanya itu kita yakini. Yakin, bahwa apa yang Dia janjikan itu benar dan pasti [Q.s. Fathir: 4]. Karena keyakinan itulah, maka kita pun termotivasi.

Maka, Allah SWT pun berfirman, “Al-Ladzina Yu’minuna bi al-ghaibi” [orang yang meyakini yang gaib] [Q.s. al-Baqarah: 3]. Setelah keyakinan pada yang gaib ini terbentuk dan kokoh, Allah melanjutkan firman-Nya, “Wa Yuqimuna as-shalat” [dan mendirikan shalat]. Artinya, tidak mungkin kita bisa menegakkan shalat dengan sebenar-benarnya, jika keyakinan kita pada yang gaib itu rapuh. Begitu juga ketika Allah melanjutkan firman-Nya, “Wa Mimma razaqnahum yunfiquna” [dan membelanjakan apa yang Kami berikan kepada mereka], maka ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang meyakini yang gaib.

Karena itu, keyakinan kita kepada yang gaib, kepada Allah, Dzat dan Sifat-Nya, kepada janji-Nya, termasuk rizki, ajal, pertolongan dan kemenangan, pahala, dosa, surga dan neraka, tentu juga malaikat dan perkara gaib yang lainnya, merupakan dasar dan kunci ketakwaan kita. Dasar yang menjadikan aktivitas kita kokoh tak tergoyahkan, meski dianggap gila, tidak masuk akal dan sebagainya. Allah mengingatkan Nabi:

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ، وَلاَ يَسْتَحِفَنَّكَ الَّذِيْنَ لاَ يُوْقِنُوْنَ

“Bersabarlah [Muhammad], sesungguhnya janji Allah itu benar dan pasti. Maka, janganlah sekali-kali orang-orang yang tidak meyakini [janji-Nya] itu membuatmu gelisah [tidak percaya diri]. [Q.s. ar-Rum: 60]

Keyakinan kita kepada yang gaib, membuat pikiran kita bisa melintasi batas. Betapa tidak, ketika kita meyakini rizki di tangan Allah, maka keterbatas nominal yang ada di tangan kita tidak akan membatasi kita untuk meraih mimpi mempunyai rumah, kendaraan, menyekolahkan anak dan sebagainya. Namun, jika pikiran kita membatasi rizki dengan nominal dan angka, maka kita pun terbelenggu oleh sekat yang kita buat sendiri. Padahal, rizki Allah Maha luas, tidak seperti angka dan nominal yang kita pikirkan. Maka, dengan keterbatasan nominal di tangan, tak menyurutkan langkah kita tuk meraih mimpi yang tinggi. Karena, kita yakin dengan misteri rizki di tangan Allah yang gaib.

Begitu juga, ketika kita yakin dengan janji Allah, bahwa Khilafah akan berdiri, dan Islam akan tegak kembali di muka bumi [Q.s. an-Nur: 55]. Keyakinan ini membuat pikiran kita bisa melintasi batas dan sekat apapun. Sekat Nasionalisme, perpecahan, perbedaan kelompok dan mazhab, lemahnya SDM, sains dan teknologi, akan bisa ditembus oleh keyakinan kita pada janji-Nya. Keyakinan itulah yang telah menjadikan kaum Muslim di masa lalu bisa mengalahkan apapun dan siapapun, yang secara fisik dan matematis sangat sulit ditundukkan.

Mereka bisa melintasi samudera, menundukkan badai dan apapun yang secara fisik dan matematis sulit ditaklukkan, karena keyakinan mereka pada pertolongan Allah. Maka, tak ada sungai, laut dan samudera, kecuali mereka tundukkan, padahal mereka hanya menggunakan kapal layar. Tak ada radar, navigasi atau kompas. Hanya keyakinan mereka pada pertolongan Allah SWT yang membuat mereka bisa menaklukkan semuanya itu. 

Sekat-sekat materi itu adalah fakta kehidupan dunia yang tampak kasat mata. Jika fakta itu membuat keyakinan kita goyah, maka itulah yang menjadi sumber petaka. Maka, Allah pun mengingatkan:

ياَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنَكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا..

“Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah itu benar dan pasti, maka janganlah sekali-kali fakta kehidupan dunia itu menipu kalian.” [Q.s. Fathir: 5]

Karena itu, keyakinan kita kepada yang gaib harus terus dibersihkan agar mengkristal, bersih dan tak ada sedikit pun diselimuti kekaburan, sehingga bisa mengakibatkan keyakinan kita kepada yang gaib itu rapuh. Caranya, dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah, dengan cara terus-menerus membaca, menghayati dan menerapkan kalam-Nya, yaitu al-Qur’an. Karenanya, Allah menjadikan Ramadhan, bukan hanya sebagai bulan puasa, bulan kesabaran dan bulan penuh berkah, tetapi juga bulan al-Qur’an.

Al-Qur’an yang diturunkan di bulan Ramadhan itu adalah petunjuk, penjelas dan obat penawar hati yang rapuh. Dengan selalu membaca, menghayati dan menerapkan kalam-Nya, hati dan keyakinan kita yang rapuh itu pun bisa dipulihkan. Rintangan dan tantangan apapun dalam kehidupan ini bisa kita atasi. Dunia dan seisinya pun kecil di mata kita. Karena, kita telah bersandar kepada Dzat yang Maha segalanya dan tak terbatas.

Keyakinan yang sama juga menjadi dasar dan kunci ketakwaan kita. Karena itu, kokoh dan tidaknya ketakwaan kita pun akhirnya kembali pada keyakinan kita kepada yang gaib. Semakin jelas, jernih dan mengkristal keyakinan kita pada yang gaib, maka ketakwaan kita pun semakin kokoh. Semoga kita bisa meraihnya, sehingga sempurnalah Ramadhan kita. Amin..

Jumat, 03 Juli 2015

SEPARUH RAMADHAN

SEPARUH RAMADHAN

Lihatlah indahnya rembulan dilangit.. 
Purnama bersinar penuh pertanda separuh Ramadhan telah kita jalani.

Lalu....

Sejenak tengoklah mushaf al-Qur'an.
Berapa lembar yang "sempat" kita baca dan tadaburi.

Separuh juga khan...?
Bahkan lebih...
Semoga...

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Bacalah al-Qur'an karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya...”
(HR. Muslim: 1871)

Sebagian ulama berkata,

"Barangsiapa yang tidak membaca al-Qur'an saat bulan Ramadhan maka di bulan selainnya lebih terlalaikan lagi..."

Masih belum terlambat bagi kita memperbaiki diri.

Entah...
Akankah tahun esok kita bersua kembali dengan Ramadhan...?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“... dan celaka seseorang yang mendapatkan bulan Ramadhan, kemudian melewatinya sebelum dosa-dosanya diampuni...”

(Hasan shahih, HR at-Tirmidzi: 3545)

Minggu, 28 Juni 2015

Pendapat tentang Tajil On The Road Karib

sore td sy terharu, sekaligus bangga. ada diantara kawan2 (remaja, pemuda dan pemudi) dr KARIB BSD, dan KARIMA.. semangat banget utk membagikan ta'jil kpd pengendara motor dan mobil disekitaran lampu merah Giant BSD City. 200 bungkus ta'jil dibagikan kpd pengendara yg melewati ruas simpang empat German Center. kami pun berjumpa dg sekelompok pemuda pemudi dr kampung tetangga, mereka dr komunitas pecinta alam, pun ternyata sdg melaksanakan kegiatan serupa. kami saling bertegur sapa,. sinergi utk berbagi. salut utk KARIB, bangga utk KARIMA, smga ini jd ladang amal soleh. @kak_toyib

Sabtu, 27 Juni 2015

Motivasi : Merindukan Halaqoh

Pernahkah Anda merasa jenuh mengikuti perhalaqohan? Untuk membenarkan kebosanan itu orang sering mencari pembenaran untuk tidak mengikutinya. Meriang sedikit minta izin dengan alasan tidak enak badan. Gerimis dibilang ‘hujan, ustadz, afwan tidak bisa hadir’. Si kecil rewel menjadi alasan ‘ada urusan keluarga mendesak’. Masya Allah ada saja seribu satu alasan bagi kita untuk menjadi budak nafsu kemalasan.
Apalagi bila musrif yang mengajarkan tidak berkenan menurut selera kita. Gaya bicaranya tidak menarik, status sosialnya tidak meyakinkan, ditambah lagi tsaqofahnya terbatas. Kian memberatkan hati dan langkah untuk hadir ke majlis halaqoh. Bila pun hadir halaqoh hanya sebagai pertemuan menjemukan yang ingin cepat diselesaikan. Atau menjadi ajang untuk tertidur hingga doa penutup majlis dibacakan.
Padahal perhalaqohan adalah pilar dari sebuah aktifitas dakwah. Satu motor dari mesin perubah masyarakat.  Halaqoh adalah kesempatan mentransfer pemahaman dari kitab pembinaan kepada para peserta halaqoh. Mungkinkah melakukan perubahan di tengah masyarakat tanpa mengurai konsep perubahan itu sendiri?

Duhai jiwa yang malas, inginkah mendengar bagaimana para salafus soleh yang telah menegakkan peradaban ini begitu merindu pada halaqoh bersama guru-guru mereka?

Baiklah kunukilkan beberapa kisah semangat jiwa orang-orang alim dalam meniti jalan menggapai ilmu. Sebutlah Ibnu Jandal al-Qurthuby Rahimahullah yang berjuang untuk bisa menghadiri majlis ilmu Ibnu Mujahid. Beliau bercerita : “Saya pernah belajar kepada Ibnu Mujahid. Suatu hari saya mendatanginya sebelum fajar agar saya bisa duduk lebih dekat dengan nya. Ketika saya sampai di gerbang pintu yang menghubungkan ke majelisnya, saya dapati pintu itu tertutup dan saya kesulitan membukanya. Saya berkata : “Subhanallah, saya datang sepagi ini, tetapi saya tetap saja tidak bisa duduk didekatnya.” Kemudian saya melihat sebuah terowongan disamping rumahnya. Saya membuka dan masuk kedalamnya. Ketika sampai di pertengahan terowongan yang semakin menyempit, saya tidak bisa keluar ataupun kembali. Saya membuka terowongan selebar – lebarnya agar bisa keluar. Pakaian saya terkoyak, dinding terowongan membekas ditubuh saya, dan sebagian daging badan saya terkelupas. Allah Subhanahu wa ta’ala menolong saya untuk bisa keluar darinya, mendapatkan majelis Syaikh dan menghadirinya, sementara saya dalam keadaan yang sangat memalukan seperti itu.”

Sudahkah kita berkorban harta untuk menghadiri perhalaqohan? Ongkos naik angkot agar bisa hadir ke majlis halaqoh atau membeli bensin agar motor bisa kita pakai menuju tempat ilmu tersebut? Simaklah kisah Imam Abu Hatim Ar-Razi Rahimahullah niscaya kita akan merasa malu. Beliau berkata : “Saya tinggal di Bashrah selama delapan bulan pada tahun 241 H. Didalam hati saya ingin tinggal selama setahun (agar bisa berlajar ilmu lagi), tetapi saya kehabisan nafkah. Maka saya menjual pakaian-pakaian saya sedikit demi sedikit, sampai saya betul-betul tidak memiliki nafkah lagi.”
Bagaimana pengorbanan dan kecintaan kita pada majlis halaqoh? Sudahkah seperti para salafus soleh yang senantiasa haul ilmu dan dimabuk ilmu? Masihkah kita meragukan janji Allah bahwa Ia akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu?

يَآيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْآ اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجَلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللهُ لَكُمْ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ اَمَنُوْا مِنْكُمْ وَ الَّذِيْنَ اُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَتٍ وَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ـ المجادلة

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(al-Mujadilah: 11).

Maukah kita dimohonkan ampunan oleh semua mahluk di langit, di bumi bahkan oleh ikan-ikan di dasar samudera? Mereka hanya memanjatkan permohonan doa kepada orang-orang yang berilmu? Apakah kita merasa malu menerima keridloan para malaikan dimana mereka mengembangkan sayapnya bagi para pencari ilmu?

“Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya bukti keridloannya pada penuntut ilmu, dan sesungguhnya orang yang alim akan dimintakan ampunan oleh penghuni langit dan bumi serta ikan-ikan dilautan.”(HR. Abu Daud)
Benar, bahwa orang yang menukil isi kitab kepada peserta halaqoh haruslah orang yang berkompeten. Tapi seringkali ukuran kompeten atau tidak kompeten itu lebih dikuasai oleh hawa nafsu kita sebagai peserta halaqoh. Ego kita mengalahkan keimanan sehingga menghilangkan ketawadluan diri di hadapan sesama muslim, apalagi di depan seorang guru. Hingga muncul sikap merendahkan kemampuan orang lain. Kita pun beringsut-ingsut menarik diri dari halaqoh dengan alasan ‘pembina tidak memuaskan’.

Seorang pembina memang harus selalu meningkatkan kualitas diri, akan tetapi itu bukan alasan bagi seorang muslim untuk meninggalkan majlis ilmu. Karena sekecil apapun, ilmu akan tetap bermanfaat. Lupakah kita dengan kemuliaan Umar bin Abdul Aziz rahimahullah yang terdiam saat seorang remaja dari Hijaz memberinya nasihat? Remaja itu berkata, “Sesungguhnya nilai seseorang itu ditentukan oleh hati dan lidahnya…”
Duduk di hadapan guru yang kemampuannya tidak seperti yang kita harapkan, lalu mendengarkan pembicaraannya, sebenarnya adalah bagian dari pembelajaraan yang mendasar dari sebuah majlis ilmu; keikhlasan dan kesabaran. Tanpa kedua sifat itu tidak mungkin seorang murid akan mendapatkan kemanfaatan dalam majlis ilmu.

Maka, sudahkah kita merindukan hadir di majlis halaqoh? Ataukah kita masih sibuk mencari-cari pembenaran ketidakhadiran kita? Semoga Allah memberikan hidayah untuk kita semua agar menjadi insan yang cinta ilmu, majlis ilmu, dan para pemberi ilmu. Agar kita senantiasa merindukan halaqoh, darah kita bergelora untuk hadir di dalamnya, dan jantung kita berdegup kencang setiap kali mata ini menatap kalam demi kalam dari kitab-kitab kajian.

(Sumber : http://www.iwanjanuar.com/merindukan-halaqoh)    😭😭

Pesantren Kilat Karima Al-Ikhwan Babakan Serpong

Dokumentasi pesantren kilat Karima Al Ikhwan Babakan, Serpong

Ustadz Budi Ashari Ajak Guru Tinggalkan Kurikulum Mubadzir

“SILAHKAN hitung berapa lama kita menghabiskan usia sejak TK sampai kuliah? Apa yang sudah kita dapat dalam rentang waktu tersebut?” tanya Ustadz Budi Ashari di hadapan 130 peserta Pesantren Guru 2 di Kuttab Al Fatih, Depok 2-3 Januari 2013.

Menurut pakar Parenting Nabawiyah ini rentang sekolah sampai usia 22 tahun bukan untuk kepentingan pendidikan, namun hanya untuk menyalurkan gejolak. Karena remaja dipersepsi penuh masalah, maka dibuatlah berbagai lembaga dan kegiatan untuk menyalurkan gejolak dan energi mereka ke arah yang positif.

“Sehingga sampai usia kuliah begitu banyak mempelajari hal-hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan yang berujung pada kemubadziran,” katanya.

Alumni Fakultas Hadist dan Dirosah Islamiyyah di Universitas Madinah ini mencontohkan kemubadziran dalam kurikulum pembelajaran bahasa. Fungsi belajar bahasa adalah untuk bicara, mengerti saat orang bicara, paham literatur, bisa menulis literatur. Belajarnya pun cukup setahun saja.

“Kenapa mesti berlama-lama seperti sekarang? Dari usia TK sampai kuliah belajar bahasa Inggris, tapi bisakah menggunakannya? Inilah kurikulum mubadzir,” tegasnya

Ia juga menekankan kepada para pendidik untuk memperhatikan kurikulum bagi anak-anak didiknya. Jangan sampai kurikulum membuang usia sehingga menghasilkan prestasi yang tidak tepat

“Tanyakan pada diri apakah kurikulum itu bermanfaat untuk dunia dan akhirat? Jika tidak tinggalkan saja,” seru penulis Modul Panduan Kuttab Al Fatih ini di hadapan perwakilan 65 lembaga pendidikan yang hadir dari Jabodetabek, Bandung, dan Lampung.

Pakar sirah nabawiyah inipun mengajak para peserta untuk menengok sejarah. Melihat bagaimana Zaid bin Tsabit mampu menguasai bahasa Ibrani hanya dalam 17 hari di usianya yang belia, 11 tahun. Beliaupun menerangkan bahwa sejarah juga mencatat “ALLAMAH”, yaitu ahli di berbagai bidang ilmu. “Karakter ilmu itu adalah holistik, menyeluruh. Maka menjadi ahli tidak hanya di satu bidang saja, tapi di segala bidang. Disebut ALLAMAH.“ jelasnya.

Allamah
Ibnu Qoyyim, Ibnu Sina, Al Khawarizmi, dan lainnya disebut sebagai “ALLAMAH”. Tidak hanya pandai Al Qur’an dan Sunnah, tapi juga menguasai beberapa bidang ilmu pengetahuan sekaligus.

Dengan ini, seharusnya para pendidik muslim mulai menumbuhkan keyakinan dan keberanian untuk mengganti kurikulum yang tidak sesuai dengan Islam.

“Bahkan ada perumpamaan dalam Taurat dan Injil tentang generasi Rasulullah SAW: generasi Muhammad seperti pohon yang sangat rindang dan membuat kagum yang menanamnya, karena melebihi target yang diinginkan. Dan seharusnya ini menjadi panduan untuk kurikulum pendidikan kita.” Tutur ayah 4 anak ini. (Nunu/Islampos)

Agenda : senang mengaji setelah dhuha

Assalamualaikum sahabat KARIB,

Mungkin tidak banyak dari kita menutrisi hati. Di saat anggota tubuh lain mendapatkan banyak sekali suplemen, namun ada satu anggota tubuh yg luput kita perhatikan. Padahal darinya lah, sumber segala tindak tanduk amal kita. Ya, HATI. Hatilah sumber segala kebaikan dan keburukan. Darinya nya lah ruh setiap amal manusia. Bayangkan seorang yg mati di jalan perang saja akan tidak diterima amalnya, apabila terselip di hatinya niatan ingin dipuji atau lainnya. Na'udzubillah min dzalik.

Ialah hati. Tempat Allah titipkan hidayah serta sedikit cahayaNya ke hamba2 pilihan-Nya. Pantas saja seperti yg diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi bahwa Nabiyullah Muhammad melalui prosesi pencucian hati terlebih dahulu sebelum isra' dan mi'raj. Inilah letak keadilan Allah, yg menilai hambanya tidak dari rupa, bentuk, maupun ciri lahiriah lainnya.

Namun bagaimanakah mencapai qalbun saliim (hati yg selamat)? Bagaimana menjaga keistiqomahan hati? Apakah qalbun saliim hanya Allah berikan kepada org2 pilihan-Nya? Mari raih kejerniha hati di bulan yg suci ini dengan hadir pada Kajian Remaja KARIB bertemakan :

✨ QALBUN SALIIM ✨

👳 : Aba Yusuf

🕒 Ahad 28 Juni 2015 pkl 09.30 s.d zuhur

🏢 Masjid Asy Syarif BSD (Masjid Al-Azhar BSD, samping taman kota)

Tajil on the road
Tausyiah oleh: Ust Rahadian
Ahad, 28 Juni 2015 pkl 17.30 di lampu merah perempatan gint bsd

Sebelum itu, ada KULIAH DUHA juga oleh

👳 : Ust Hari Moekti

🕖 : 07.30 s.d 09.00

Acara ini untuk umum. Silahkan ajak keluarga dan teman2. Dan raih amal soleh dengan menyebarkan pesan ini 😊
Syukron Jaziilan
Wassalamualaikum

📱08979228341 (ikhwan) 
📱082112041308 (akhwat)

Twitter : @karibfmmb 
Blog : remajakarib.blogspot.com

KARIB RAMADHAN : Tajil On The Road

Tajil on the road adalah Progam Keluarga Remaja Islam Bsd (Karib) selama Ramadhan. Dgn tujuan menyebarkan opini dakwah Islam ke tengah-tengah kalangan remaja..
*Bertempat di Lampu Merah Giant Bsd
*pkl 17.00 sd 18.15
Yuk Ramaikan  ..